Apa yang akan dilakukan, jika Anda adalah seorang pejabat pemerintahan di Bogor, kemudian mengalami masalah komunikasi yang buruk sehingga harus berhadap-hadapan dengan wartawan?

Pasti tidak gampang, apalagi kasus yang dialaminya seperti yang menimpa pada Camat Cibungbulang Yudi Nurzaman. Camat Yudi bukanlah pejabat yang pertama yang berhadapan dengan wartawan, karena “keceplosan” merendahkan profesi wartawan.

Oke lah peristiwa sudah lewat, meskipun luka wartawan mungkin belum sepenuhnya pulih dan urusan dengan wartawan pun belum 100 persen tuntas

Pertanyaannya, adakah pelajaran komunikasi yang bisa dipetik oleh pejabat lainnya dari peristiwa komunikasi Camat Yudi ini?

Menurut saya, pelajaran komunikasi yang utama dari Camat Yudi adalah bagaimana cara beliau mengelola krisis yang dihadapinya, sekaligus strategi teknis keluar dari krisis yang membelitnya.

Memang banyak jalan menuju Roma, dalam teori komunikasi yang diciptakan oleh Prof William Benoit — penemu Image Restoration Theory pun setidaknya ada 5 strategi untuk memulihkan citra dari krisis yang dihadapi. Saya hanya bahas langkah komunikasi Camat Yudi versi Teori Benoit.

Camat Yudi Minta Maaf

Nah, disadari atau tidak oleh beliau, sebenarnya Camat Yudi telah menggunakan strategi pemulihan citra yang ditawarkan dalam Teori Pemulihan Citra yang poin terakhir, yaitu Mortification Strategy.

Dalam beberapa kali kesempatan Camat Yudi sudah menyampaikan pernyataan maaf secara langsung kepada wartawan. Bahkan di hari saat “keceplosan” pun, saat dikonfirmasi wartawan dia langsung meminta maaf.

Esoknya, saat ditemui pengurus salah satu organisasi kewartawanan Bogor Raya di kantornya, Camat Yudi juga konsisten mengungkapkan hal yang sama.

Bahkan — mungkin ini yang paling afdol — dengan didampingi Sekda Kabupaten Bogor Burhanudin, kepada para wartawan yang biasa meliput kegiatan Pemkab, Camat Yudi menyampaikan maaf sambil mengungkapkan penyesalannya yang mendalam.