Mungkin alasan itu juga yang menginspirasi Benny Tjokro untuk menulis Kisah Petani Cabe, agar publik bisa memahami persoalan yang dihadapinya

Namun, sebagai sebuah ikhtiar advokasi citra, aksi yang dilakukan Benny Tjokro dengan surat-suratnya adalah pelajaran yang berharga sebagai sebuah strategi komunikasi citra menghadapi masalah hukum.

Ingat, dalam dunia komunikasi Repetition make Reputation. Informasi yang berulang-ulang adalah reputasi atau pencitraan. Perbaikan reputasi yang baik bisa memulihkan citra karena bisa menngurangi persepsi negatif dari publik.

Rekomendasi saya untuk Benny Tjokro, jangan berhenti menulis sura. Lanjutkan dan teruslah menulis, serta bagikan informasi faktual kepada wartawan.

Anda dalam posisi bahaya (uang, dan aset bisa hilang), dan jika urusannya terkait dengan politik, mungkin nyawa Anda menjadi taruhahnya. Semoga urusannya tidak seseram itu.

Soal urusan hukum, pasti perjalannya masih panjang. Biarlah tim hukum berjuang melakukan pembelaanya secara maksimal. Sampai akhirnya ada keputusan yang tidak bisa diganggu gugat lagi. (*)


Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalaman menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, Sapu Langit Communications, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).