Taktik ini dilakuka dengan menyerang kredibilitas yang menuduh, dengan mempertanyakan kompetensi dan hal lainnya, harapannya adalah agar perhatian publik pun berpindah ke penuduh/penyerang.

Sayangnya langkah ini kurang berhasil karena tidak ada tindak lanjut dari tim komunikasi Benny Tjokro yang bisa mengeksekusi dan mem-blow up isu ini dengan baik.

Padahal dengan melakukan penelusuran jejak digital dan membaca pengumunan keterbukaan informasi publik PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mudah diketahui benang merahnya.

Dengan demikian, mestinya bisa ditelusuri dengan mudah :

  1. Siapa saja pihak (sekuritas/investor) yang terlibat memperjualbelikan saham Hanson, termasuk kepada PT Asuransi Jiwasraya?
  2. Siapa saja pedagang besar (sekuritas/underwriter) yang berkuasa membagi-bagikan saham Hanson, termasuk kepada PT Asuransi Jiwasraya?
  3. Siapa saja pihak (narasumber/opinion leader) yang menyebarkan hoax, fitnah, serta isu negatif yang akhirnya menyebabkan harga sahan Hanson busuk?

Tetapi, itu semuanya masuk ke urusan hukum dan jika ingin serius membongkar skandal Jiwasraya, seharusnya juga diusut tuntas. Silahkan hukum menjadi panglima yang benar.

Urusan komunikasi adalah adalah meminta perhatian dan simpati publik agar urusan hukum berjalan dengan penuh keadilan.

Pelajaran Komunikasi Citra

Dapatkan surat-surat Benny Tjokro mempengaruhi hasil akhir atau mengurangi hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya? Tentu tidak gampang menjawab pertanyaan ini.

Upaya advokasi citra tentu harus dibarengi advokasi hukum yang kuat agar mudah dipahami oleh para penegak hukum mengingat ini menyangkut urusan ekonomi/pasar saham yang rumit dipahami awam.