Sebuah Ikhtiar Advokasi Citra

Merupakan hak setiap orang untuk melakukan komunikasi persuasif, yang bertujuan untuk mempengaruhi publik (termasuk pemangku kepentingan dalam pengambilan kebijakan atau keputusan).

Apa yang dilakukan oleh Benny Tjokro melalui surat-suratnya juga merupakan advokasi citra yang mengadung komponen komunikasi citra dan manajemen reputasi. Secara strategis, upaya ini juga bisa memperbaiki persepsi publik.

Dalam ilmu komunikasi, utamanya Image Restoration Theory (atau teori pemulihan citra) dibahas berbagai strategi pencitraan (public relations) yang terbukti bisa merestorasi citra ataupun memperbaiki reputasi.

Dalam surat Benny Tjokro (terlepas diketahui/tidak, disengaja/tidak), saya melihat ada unsur ikhtiar komunikasi yang relevan dengan teori pemulihan citra.

Secara garis besar, saya mecatat beberapa poin penting dalam surat Benny Tjokro yang mengandung unsur advokasi citra (dan hukum, sekaligus) yang menyebabkan terganggunya rasa keadilan bagi Benny Tjokro.

Pertama, Benny Tjokro menyoal kenapa dia ditangkap dan yang lainnya tidak, padahal gampang diketahui siapa penjual/pembelinya. Selain itu banyak juga banyak saham (yang rugi), kenapa hanya saham Hanson (perusahaan Benny) yang dipersoalkan.

Menurut teori pemulihan citra, Benny Tjokro sedang menggunakan Strategi Reducing Offensiveness of Event. Dalam strategi ini, dikondisikan bahwa pihak yang melakukan kesalahan pantas diberikan keringanan.

Dalam konteks ini, Benny mengunakan taktik Differensiasi. Melalui taktik dan strategi ini, Benny mengharapkan equal treatment atau jangan ada perlakuan yang berbeda untuk kasus yang sama.

Kedua, Benny Tjokro menuding ada pemborong besar saham Hanson yang sangat berkuasa (dekat dengan kekuasaan?) yang ingin menangkapnya karena sahamnya sahamnya tidak laku. Padahal yang menyebabkan sahamnya busuk adalah hoax, fitnah, serta isu negatif.

Dalam teori pemulihan citra, Benny Tjokro masih menggunakan strategi yang sama, namun taktik di surat kedua ini menggunakan taktik Attack Accuser.