Bukan Surat Biasa

Seperti diketahui, Benny Tjokro sudah membuat dua surat dari balik tahanan. Surat tersebut disampaikan kepada wartawan, dalam kesempatan yang berbeda.

Baca juga : Kasus RJ Lino, dan Ikhtiar Komunikas Tersangka Menghadapi Hukum

Surat pertama disampaikan di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat malam, 31 Januari 2020. Isi suratnya singkat, begini catatannya :

1. Ada puluhan manajer investasi, ada puluhan / ratusan jenis saham yang bikin rugi. Kenapa enggak semua ditangkap? Kenapa cuma (PT) Hanson?

2. Saham Hanson yang ada di dalam manajer investasi milik Jiwasraya beli dari siapa, mudah koq dicari. Kalau ketemu penjualnya, jagi jelas. Ingat lho MYRX itu perusahaan TBK. Ada lebih dari 8000 saham saham.

Sedangkan surat kedua, disampaikan pada Selasa, 4 Februari 2020. Isi suratnya lebih panjang disampaikan melalui pengacara, begini catatannya :

Kisah Petani Cabe :

Ada seorang petani cabe yang sangat rajin. Seluruh desa ikut bekerja dengan petani tersebut, bahkan sawah-sawah penduduk disewakan ke petani tersebut.

Pada suatu hari, ada pedagang besar memborong cabe dari di petani, kemudian dikirim atau didistribusikan ke pasar-pasar miliknya. Tiba-tiba ada banjir besar. Cabe dan dagangan lain milik si pedagang tidak ada pembeli/tidak laku. Bahkan beberapa hari kemudian cabe tersebut busuk karena terendam air.

Pedagang tersebut kemudian merencanakan menangkap si petani dengan alat bukti cabe busuk, bahkan juga meneror keluarganya dan penduduk desa yang ikut kerja, serta menyita sawah-sawah milik penduduk desa tersebut. Ini terjadi karena pedagang tersebut sangat berkuasa.

Saya percaya penguasa dan penegak hukum di negara ini merupakan wakil Tuhan tidak akan membenarkan perbuatan si pedagang.

* Dalam kisah ini cabe diartikan sebagai saham Hanson. Penduduk desa adalah pemegang saham publik, kreditor, pegawai, partner yang jumlahnya ribuan. Banjir adalah hoax, fitnah, serta isu negatif