Sikap over protective ini tidak produkttif karena mengganggu kerja jurnalistik dan berpotensi menimbulkan bentrokan dengan pihak wartawan. Jika ini terjadi, maka masalah yang sedang Anda hadapi semakin terbuka lebar, ditambah lagi dengan urusan press relations yang harus juga dipulihan.

5. Fokus kepada key message

Ini adalah poin paling penting, karena hal ini merupaksn inti dari konten yang akan disampaikan kepada media. Toh begitu, jangan menggabaikan prosesnya, bagainlmana mungkin Anda bisa menyampaikan pesan dengan baik, dan terfokus pada kunci pesan, jika prosesnya berantakan?

Ada banyak cara untuk menyampaikan pesan pada saat Anda terkena krisis, seperti masalah hukum ini ataupun melakukan kesalahan yang fatal. Tujuannya, agar meskipun Anda salah, namun dengan komunikasi yang tepat maka masalah citra/reputasi tidak lantas terjun bebas.

Prof. William Benoitt menuliskan banyak cara untuk masalah ini dan mengunakan lima strategi komunikasi untuk pemulihan citra dalam teori yang diciptakannya, yaitu lmage Restoration Theory (atau teori pemulihan citra).

Key Message yang Memperbaiki Reputasi

Sambil menyelam minum air, begitulah bila key message yang disampaikan mengandung strategi image restoration (restorasi citra), perbaikan komunikasi, atau pemulihan citra.

Ada beberapa strategi komunikasi yang sulit untuk dijalankan, apalagi jika kasus hukum yang dihadapinya adalah kasus korupsi dari operasi tangkap tangan (OTT).

Misalnya, Strategi Denial, yaitu melakukan penyangkalan (simple denial). Tetapi ada juga yang selain menyangkal, juga mengalihkan kesalahan kepada orang lain (shifting the blame).

Kemudian, Strategi Corrective Action, yang dilakukan dengan menjanjikan bahwa tindakan (kesalahan) yang terjadi akan diperbaiki lebih baik lagi ke depannya.

Yang lainnya adalah Strategi Evading of Responsibility. Strategi ini adalah melakukan penghindaran tanggungjawab atas pekerjaan atau tindakannya, tujuannya tentu juga untuk mengurangi tanggungjawab atas konsekuensi tindakannya (kesalahan) tersebut.

Ketiga strategi itu meskipun disampaikan dengan janji-janji yang sangat meyakinkan, tetap sulit diterima publik, dan kurang bisa memperbaiki citra positif karena alasan distrust atau hilangnya kepercayaan publik.