Antara lain : Magnitude (pengaruh terhadap publik), Proximity (kedekatan dengan pembacanya), Aktualitas, Impact (dampak), Unusualness (keluarbiasaan), Public Figure (ketokohan), Human Interest (kemanusiaan), Konflik (termasuk sengketa hukum), Suprising (mengejutkan), Sex, dan Informasi.

Lengkap sudah penderitaan Anda, jika Anda adalah seorang tokoh publik yang tersangkut hukum dengan news value yang tinggi karena banyak memenuhi kriteria di atas.

Baca juga : Dapatkah Harga Saham Dikelola dengan Manajemen Reputasi?

Nah, yang harus diketahui saat ini, saat ini yang sedang dihadapi adalah bukan hanya penuntut umum dan masalah hukum, namun juga menghadapi wartawan hukum & kriminal.

Menghadapi Wartawan Hukum & Kriminal

Jangan sekali-kali menyepelekan kehadiran wartawan ini, karena peranannya sangat penting dan strategis. Jika tidak dikelola dengan baik, Anda bisa terjerumus dalam persoalan yang rumit.

Tokoh yang berurusan dengan pihak yang berwajib saja, itu sudah masuk dalam situasi krisis yang sangat dalam. Jika terjadi miskomunikasi dengan wartawan maka citra dan reputasinya akan semakin hancur.

Itulah sebabnya selain ada penasehat hukum, barangkali tokoh publik juga perlu pendamping seorang ahli komunikasi yang memahami manajemen reputasi dan restorasi citra untuk memastikan langkah-langkah komunikasi yang dilakukan efektif.

Seperti diketahui, ada ratusan wartawan (cetak, online, radio, dan televisi) yang ngepos dan mangkal, yang mencari berita dan meliput peristiwa di kantor- kantor aparat hukum, seperti : KPK, Kejaksaan Agung, Kepolisian, Pengadilan, dan sebagainya.

Itulah sebabnya diperlukan taktik dan persiapan yang baik agar informasi yang disampaikan tidak malah menambah kerusakan citra dan reputasi.

Yang harus Anda ketahui jika seorang tokoh publik memiliki masalah dengan hukum, maka Anda bukan hanya berhadapan dengan aparat hukum.

Anda juga akan berhadapan dengan puluhan/ratusan wartawan hukum & kriminal yang siap menghadang Anda begitu Anda tiba di gedung atau markas penegak hukum.