Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

KADANG-KADANG kehidupan tidak selalu berjalan normal sebagaimana yang diharapkan dan sebagai mana mestinya. Ada kalanya harus menghadapi masalah.

Demikian juga yang menimpa public pigure (tokoh publik) atau selebritas, baik yang berasal dari dunia politik, bisnis, maupun entertainment bisa saja tersandung masalah hukum.

Mulai dari urusan hukum yang sepertinya ringan, seperti kasus perceraian, pencemaran nama baik, sampai dengan kasus korupsi yang merugikan keuangan negara.

Jika mengalami permasalahan hukum seperti ini, tentu diperlukan bantuan penasehat hukum yang mumpuni, agar mengurangi beban persoalan yang sangat besar.

Prosesnya pun bisa menguras tenaga dan pikiran, bahkan uang juga, karena perjalanannya yang panjang mulai dari urusan menjadi saksi, tersangka hingga terdakwa, jika menjadi pihak yang diadukan.

Pihak yang mengadukan pun bisa mengeluarkan energi yang sama, bahkan bisa lebih banyak jika kemudian kalah dalam pengadilan.

Menjadi Perhatian Publik

Adalah sebuah konsekuensi logis jika persoalan hukum yang dialami akhirnya perhatian publik, karena predikatnya sebagai tokoh publik (selebritas).

Belum lagi kasusnya yang menarik yang melibatkan skandal seksual, atau dampak kerugian keuangan negara yang diakibatkan korupsinya sangat besar.

Biasanya peristiwa yang menjadi perhatian publik itu memiliki news value yang tinggi. Sehingga otomatis peristiwa seperti ini juga akan mendapat perhatian khusus wartawan.

Menurut ahli komunikasi jurnalistik, suatu peristiwa bisa menjadi publikasi dan pemberitaan, dengan memperhatikan faktor-faktor nilai berita

Antara lain : Magnitude (pengaruh terhadap publik), Proximity (kedekatan dengan pembacanya), Aktualitas, Impact (dampak), Unusualness (keluarbiasaan), Public Figure (ketokohan), Human Interest (kemanusiaan), Konflik (termasuk sengketa hukum), Suprising (mengejutkan), Sex, dan Informasi.

Lengkap sudah penderitaan Anda, jika Anda adalah seorang tokoh publik yang tersangkut hukum dengan news value yang tinggi karena banyak memenuhi kriteria di atas.

Baca juga : Dapatkah Harga Saham Dikelola dengan Manajemen Reputasi?

Nah, yang harus diketahui saat ini, saat ini yang sedang dihadapi adalah bukan hanya penuntut umum dan masalah hukum, namun juga menghadapi wartawan hukum & kriminal.

Menghadapi Wartawan Hukum & Kriminal

Jangan sekali-kali menyepelekan kehadiran wartawan ini, karena peranannya sangat penting dan strategis. Jika tidak dikelola dengan baik, Anda bisa terjerumus dalam persoalan yang rumit.

Tokoh yang berurusan dengan pihak yang berwajib saja, itu sudah masuk dalam situasi krisis yang sangat dalam. Jika terjadi miskomunikasi dengan wartawan maka citra dan reputasinya akan semakin hancur.

Itulah sebabnya selain ada penasehat hukum, barangkali tokoh publik juga perlu pendamping seorang ahli komunikasi yang memahami manajemen reputasi dan restorasi citra untuk memastikan langkah-langkah komunikasi yang dilakukan efektif.

Seperti diketahui, ada ratusan wartawan (cetak, online, radio, dan televisi) yang ngepos dan mangkal, yang mencari berita dan meliput peristiwa di kantor- kantor aparat hukum, seperti : KPK, Kejaksaan Agung, Kepolisian, Pengadilan, dan sebagainya.

Itulah sebabnya diperlukan taktik dan persiapan yang baik agar informasi yang disampaikan tidak malah menambah kerusakan citra dan reputasi.

Yang harus Anda ketahui jika seorang tokoh publik memiliki masalah dengan hukum, maka Anda bukan hanya berhadapan dengan aparat hukum.

Anda juga akan berhadapan dengan puluhan/ratusan wartawan hukum & kriminal yang siap menghadang Anda begitu Anda tiba di gedung atau markas penegak hukum.

Mereka akan melakukan door stop untuk mengorek tambahan informasi langsung dari Anda. Puluhan alat rekam dan mic televisi mengarah ke mulut Anda, sementara cahaya lampu kamera menyorot tajam ke wajah Anda.

Wartawan hukum dan kriminal ini adalah wartawan yang cerdas, dan memiliki bacground info yang cukup lengkap (yang tentu saja akan merugikan Anda) karena berasal dari aparat yang akan Anda hadapi.

Sehingga meskipun Anda diam membisu, tidak mau ngomong apapun, atau berlari menghindari kejaran wartawan, atau memasang raut muka yang kejam apalagi menangis, itu sudah cukup bahan untuk jadi berita besar.

Persiapan yang Harus Dilakukan

Nah, menghadapi persoalan seperti ini, ada beberapa hal yang sebaiknya Anda perhatikan sebagai berikut :

1. Persiapan mental Anda.

Persiapan mental (dan spiritual juga) sangat penting karena akan menentukan langkah komunikasi Anda selanjutnya.

Seperti dijelaskan di depan, bukan hanya aparat yang Anda hadapi, tapi juga wartawan. Karena itu baik sekali, jika selain didampingi konsultan hukum, juga perlu ada konsultan komunikasi – jika tidak siap mental.

2. Hadapi dengan baik.

Dengan kesiapan mental yang cukup, Anda tidak perlu berlari-larian kesana kemari menghindar dari wartawan. Kenapa? Pada saatnya pasti akan ketemu mereka, lebih baik hadapi saja dengan baik.

Dengan mental yang kuat, persiapan yang matang, serta simulasi yang sudah dibrief oleh tim komunikasi Anda, maka menghadapi wartawan sebanyak apapun akan lebih mantap. Berita juga tidak mengambil judul “koruptor lari tunggang langgang”, atau yang seperti itu.

3. Jangan emosi dan temperamen.

Kalem saja, Anda harus ikhlas menghadai wartawan hukum dan kriminal. Pasti banyak pertanyaan pers yang membuat Anda merasa terteror, tapi Anda jangan terpancing. Jika terpancing, bisa jadi judul beritanya adalah apa yang Anda ekspresikan.

4. Jangan over acting.

Yang bisa melakukan aktifias over acting ini adalah bodiguard atau pengawal Anda baik yang disewa dari pihak luar ataupun pihak internal. Dengan alasan melindungi Anda atau ingin terlihat prosesional di mata bos namun pada kenyataannya menyulitkan wartawan yang akan memotret.

Sikap over protective ini tidak produkttif karena mengganggu kerja jurnalistik dan berpotensi menimbulkan bentrokan dengan pihak wartawan. Jika ini terjadi, maka masalah yang sedang Anda hadapi semakin terbuka lebar, ditambah lagi dengan urusan press relations yang harus juga dipulihan.

5. Fokus kepada key message

Ini adalah poin paling penting, karena hal ini merupaksn inti dari konten yang akan disampaikan kepada media. Toh begitu, jangan menggabaikan prosesnya, bagainlmana mungkin Anda bisa menyampaikan pesan dengan baik, dan terfokus pada kunci pesan, jika prosesnya berantakan?

Ada banyak cara untuk menyampaikan pesan pada saat Anda terkena krisis, seperti masalah hukum ini ataupun melakukan kesalahan yang fatal. Tujuannya, agar meskipun Anda salah, namun dengan komunikasi yang tepat maka masalah citra/reputasi tidak lantas terjun bebas.

Prof. William Benoitt menuliskan banyak cara untuk masalah ini dan mengunakan lima strategi komunikasi untuk pemulihan citra dalam teori yang diciptakannya, yaitu lmage Restoration Theory (atau teori pemulihan citra).

Key Message yang Memperbaiki Reputasi

Sambil menyelam minum air, begitulah bila key message yang disampaikan mengandung strategi image restoration (restorasi citra), perbaikan komunikasi, atau pemulihan citra.

Ada beberapa strategi komunikasi yang sulit untuk dijalankan, apalagi jika kasus hukum yang dihadapinya adalah kasus korupsi dari operasi tangkap tangan (OTT).

Misalnya, Strategi Denial, yaitu melakukan penyangkalan (simple denial). Tetapi ada juga yang selain menyangkal, juga mengalihkan kesalahan kepada orang lain (shifting the blame).

Kemudian, Strategi Corrective Action, yang dilakukan dengan menjanjikan bahwa tindakan (kesalahan) yang terjadi akan diperbaiki lebih baik lagi ke depannya.

Yang lainnya adalah Strategi Evading of Responsibility. Strategi ini adalah melakukan penghindaran tanggungjawab atas pekerjaan atau tindakannya, tujuannya tentu juga untuk mengurangi tanggungjawab atas konsekuensi tindakannya (kesalahan) tersebut.

Ketiga strategi itu meskipun disampaikan dengan janji-janji yang sangat meyakinkan, tetap sulit diterima publik, dan kurang bisa memperbaiki citra positif karena alasan distrust atau hilangnya kepercayaan publik.

Yang lebih mungkin dijalankan adalah dua strategi berikut ini. Pertama, Strategi Mortification. Strategi ini sangat elegan, yaitu mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas tindakan yang dilakukan.

Kedua, Strartegi Reducing Offensiveness of Event. Dalam strategi ini, dikondisikan bahwa pihak yang melakukan kesalahan pantas diberikan keringanan. Caranya adalah dengan mengutip tindakan-tindakan positif yang sudah dilakukan di masa lalu dan bisa diterima publik dengan baik (Bolstering).

Bisa juga melakukan upaya-upaya yang bisa mengurangi perasaan negatif dengan cara-cara persuasi kepada publik, sekaligus meyakinkan publik bahwa yang terjadi tidaklah seburuk seperti yang dipikirkan, dipersepsikan, atau yang terjadi (Minimization).

Setelah dipilih strategi komunikasi citra yang tepat selanjutnya membuat narasi yang efektif dalam dua kalimat saja. Itulah key message yang harus Anda ingat dan fokuskan.

Jangan lupa, waktunya pendek dan kemungkinan suasana crowd yang bisa mengganggu konsentrasi Anda. Waktunya bisa kurang dari 5 menit, saat Anda turun dari mobil hingga masuk gedung.

Karena sempitnya waktu, sangat wajar jika wartawan berebut bertanya. Anda tetap fokus, pegang prinsip seperti iklan minuman dalam botol, “apapun pertanyaannya, jawabannya key message“, sesuai yang sudah ditentukan.

Jika Ada bahan informasi panjang lebar, sebaiknya sampaikan melalui tim ,dalam bentuk tulisan Background Information dan Press Release, untuk menyeimbangkan berita yang negatif, atau meluruskan informasi yang salah.

Jika langkah-langkah di atas bisa dieksekusi dengan sempurna, diharapkan masalah hukum yang dihadapi tidak bertambah besar, malah diharapkan bisa mengurangi kebencian publik ataupun perasaan negatif publik. Semoga (*)


Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalaman menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, Sapu Langit Communications, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).