Lino juga tidak menyerahkan urusan wartawan kepada penasehat hukumnya, dia tampil gentlement menjadi narasumber mahkota yang menjelaskankan langsung pernyataanya kepada pers, tentu hal ini juga menjadi poin tersendiri.

Mungkinkah ikhtiar komunikasi ini Lino jadi terhindar dari jeratan hukum, atau minimal dapat mengurangi sanksi hukum? Rasanya sulit atau tidak mungkin. Dengan predikat tersangka saja, sebenarnya juga jarang bisa menginap di rumah. Tetapi toh tidak ada yang mustahil juga.

Namun juga harus juga dipahami bahwa persoalan hukum dan persoalan komunikasi adalah dua urusan yang berbeda, mesikipun ada juga persinggungannya.

Di ranah hukum, audiennya adalah penegak hukum dengan alat bukti berupa fakta-fakta dan pengurangan sanksi hukum tentunya harus beradu fakta-fakta di persidangan.

Sedangkan dalam hal komunikasi, audiennya adalah publik yang sangat luas (termasuk juga aparat hukum) yang dibombardir dan dibanjiri opini dan berita-berita negatif yang daya rusaknya sangat terhadap citra dan reputasi.

Nah, untuk mengurangi atau meminimalisasi perasaan kebencian atau persepsi negatif dari publik inilah, diperlukan aksi komunikasi restorasi citra dan memperbaki reputasi citranya.

Ikhtiar komunikasi Lino melalui statemennya di KPK, saya nilai positif, dan bisa jadi role model bagi tokoh-tokoh yang tersandung masalah hukum. Lihat saja, pemberitaan media mainstream yang relatif kondusif, berikut ini.

Media yang lainnya juga menurunkan berita dengan judul yang seperti itu. Bagaimana kisah Lino berikutnya? Yuks kita tunggu saja di babak berikutnya, nanti. (*)


Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalaman menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, Sapu Langit Communications, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).