Kedua, RJ Lino juga mengambil momentum yang baik itu dengan menunjukkan keberhasilannya selama menjabat Direktur Utama PT Pelindo II. Pada waktu Lino masuk Pelindo II, asetnya Rp 6,4 triliun, sedangkan waktu berhenti aset Pelindo itu mencapai Rp 45 triliun.

Baca juga : Strategi PR Pilihan Dato Sri Tahir untuk Merestorasi Citranya

Sedangkan statemen soal penantiannya selama 4 tahun untuk kejelasan statusnya, juga bukan kesalahan Lino. Sepertinya Lino ingin memberi pesan bahwa dia tidak seperti tersangka lainnya, yang kabur atau menghilang.

Strategi Pemulihan Citra

Apa yang disampakan Lino (disadari atau tidak oleh beliau) sebenarnya sudah mengandung upaya pemulihan citra atau restorasi citra (reputation repair)

Menurut Image Restoration Theory (teori pemulihan citra) Prof. William Benoitt, statemen Lino termasuk dalam strategi Reducing Offensiveness of Event. Dalam strategi ini, dikondisikan bahwa pihak yang melakukan kesalahan pantas diberikan keringanan.

Caranya adalah dengan mengutip tindakan-tindakan positif yang sudah dilakukannya di masa lalu, sehingga diharapkan bisa mengurangi perasaan dan persepsi publik yang negatif.

Dalam strategi Reducing Offensiveness of Event ini, ada beberapa model atau taktik, nah dalam konteks RJ Lino ini yang digunakan adalah taktik Minimization.

Tindakan komunikasi ini dilakukan dengan meyakinkan publik bahwa yang terjadi tidaklah seburuk seperti yang dipikirkan, yang dipersepsikan, atau yang diberitakan terjadi.

Bukan itu saja, seperti dijelaskan Rino, aset perusahaan selama kepemimpinannya meningkat lebih dari 7 kali lipat menjadi perusahaan bisa bertambah menjadi Rp 45 miliar. Padahal tudingan yang disangkakan kepada Lino adalah merugikan keuangan negara Rp 60 Miliar.

Citranya Bisa Menjadi Lebih Baik

Dengan penjelasan Rino, terlepas masalah hukumnya seperti apa nanti pada akhirnya – dilihat dari sisi komunikasi, saya kira indeks reputasinya pasti lebih baik.

Apalagi, jika dibandingkan dengan banyak tokoh tersangka korupsi lainnya yang membisu, tidak mau berkomentar, atau cuma berkomentar “no comment”. Bahksn, banyak juga yang terbirit-birit, menghindar dan melarikan diri dari kejaran wartawan KPK.