Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

ADALAH keinginan yang sangat manusiawi bahwa setiap orang ingin citra, reputasi, dan nama baiknya terlihat selalu baik dan mencorong.

Tidak terbatas apakah orang tersebut bersalah atau tidak, tersangka atau bukan, tersandung masalah hukum atau tidak. Umumnya semuanya ingin citranya bagus.

Memenuhi harapan seperti itulah maka diperlukan pengelolaan citra dan reputasi yang tepat melaui manajemen reputasi, strategi komunikasi, ataupun taktik public relations agar pencitraan yang dilakukan hasilnya efektif, sesuai harapan.

Namun namanya juga kehidupan, terkadang ada batu sandungannya juga. Karena satu hal (misalnya kondisi krisis, termasuk terlibat urusan hukum) maka menyebabkan citra dan reputasinya rusak. Jika begini situasinya, apa yang harus bagaimana?

Jika citra/reputasi tentu juga harus dikelola dengan baik dengan manajemen reputasi, strategi komunikasi, dan taktik public relations sesuai dengan komunikasi krisis yang dihadapi.

Dalam tindakan komunikasi, upaya ini disebut sebagai image restoration (pemulihan citra/restorasi citra) atau reputation repair (perbaikan reputasi).

Baca : Solusi Komunikasi Citra Benny Tjokro Menghadapi Masalah Hukum

Communications action-nya seperti apa, saya mengambil contoh aktual yang terjadi di KPK yang bisa dijadikan contoh upaya tersangka kasus korupsi melakukan strategi restorasi citra untuk mrmulihkan nama baiknya.

Ikhtiar Komunikasi RJ Lino

Setelah menunggu 4 tahun tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan quay container crane (QCC) di PT Pelindo II, Richard Joost (RJ) Lino, diperiksa KPK di Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (23/1/2020).

Mengomentari pemeriksaan ini mantan Dirut Pelindo II RJ Lino, saya mencatat ada beberapa hal penting, yang diambil dari berbagai publikasi berita hari ini.

Pertama, beliau mengaku senang dipanggil KPK setelah empat tahun menunggu. Dia juga mengharapkan proses ini menjelaskan statusnya, sejak terakhir ke KPK pada 5 Februari 2016.