Baca juga : Strategi Komunikasi dan Manajemen Reputasi untuk Calon Bos BUMN

Meskipun judulnya berbeda-beda, namun poinnya sama saja. Misalnya : Emiten Properti Milik Keluarga Dato’ Sri Tahir Beli Perusahaan Benny Tjokro (media Kontan, 17 Desember 2019), Tahir akan Akuisisi Anak Perusahaan Benny Tjokro (media CNBC Indonesia, 18 Desember 2019), dan judul medis lainnya yang menduplikasi judul ini.

Menghadapi persoalan demikian, seharusnya (sebaiknya) Tahir melakukan upaya pemulihan reputasi dan restorasi citra agar kontroversi sinkronisasi pernyataan Tahir, dengan pengumuman bursa efek bisa segera diminimalisasi.

Rekomendasi Restorasi Citra

Sebenarnya ada dua isu yang sedang menjadi sorotan publik, dan pelaku pasar modal yaitu pertama soal isu Jiwasraya, dan kedua, soal isu hubungan bisnisnya dengan pengusaha Benny Tjokrosaputra, pemilik Hanson Group – yang dicekal Kejakgung terkait Jiwasraya.

Kedua isu tersebut sebenarnya bisa dipandang sebagai hal yang tidak terkait, merupakan hal yang berbeda, dan hal yang terpisah oleh dinding pemisah yang tinggi, seperti chinesse wall.

Dengan demikian, saya merekomendasikan upaya restorasi citra, melaui dua delivery informasi yang mestinya disampaikan oleh pihak Tahir.

Pertama, terkait isu Jiwasraya perlu ada penjelaskan ulang bahwa Tahir dan Mayapada Group sama sekali tidak terkait langsung maupun tidak langsung dengan masalah Asuransi Jiwasraya. Ini, adalah Denial Strategy seperti yang tercantum dalam teori komunikasi, Image Restoration Theory.

Hal ini bisa disertai dengan tambahan informasi atau mrmpersilahkan agar media juga mengecek masalah ini kepada pihak yang berwenang menangani persoalan Asuransi Jiwasraya (misalnya, kementerian BUMN, Kemenkeu ataupun Kejaksaan. Agung)

Yang membuat pernyataan soal di atas bisa dilakukan langsung oleh nara sumber mahkota (yaitu Tahir), atau anggota keluarga Tahir (yang disampaikan melalui Press Conference maupun Press Release)

Kedua, soal kerjasama bisnis dengan Benny Tjokro. Sebaiknya yang menyampaikan informasi di berikut ini bukan Tahir, tapi sebagai penggantinya bisa pihak anggota, CEO Mayapada Group, atau Corporate Secretary Mayapada Group.

Dalam masalah ini perlu ada penguatan penjelasan sebelumnya bahwa secara pribadi memang tidak ada kaitan bisnis antara Tahir dan Benny Tjokro. Hal ini merupakan langkah Corective Action Strategy, dalam teori komunikasi, Image Restoration Theory.

Bisa juga menambahkan informasi, karena kesibukan Tahir membantu pemerintah, dan kegiatan sosial (filantropi), sehingga Tahir juga mengurangi aktifitas bisnisnya, dengan memberikan kesempatan bagi manajemen perusahaan untuk mengambil langkah-langkah corporate action yang terbaik.