Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BAGI seorang public figure atau tokoh publik, dari profesi apapun (politisi, pengusaha, ataupun selebriti), nama naik dan reputasi adalah hal yang sangat berharga.

Mereka sangat menghargai reputasi dan citra diri mereka dan berani mempertaruhkan apapun agar namanya tetap baik, reputasinya terjaga dengan bagus, dan berusaha agar citranya selalu terangkat naik.

Namun siapa sangka tiba-tiba diserang suatu masalah (baik akibat kesalahannya sendiri atau pihak lain) yang menyebabkan situasi krisis, sehingga nama baik dan reputasinya menjadi rusak.

Misalnya, ada rumor dan gosip yang miring, di-bully dengan komentar tidak sopan, diserang berita hoaks, munculnya video yang memalukan, atau terbitnya berita hukum yang merugikan. Apalagi, jika semua berita negatif itu menjadi viral.

Langit dan bumi seakan runtuh. Nama Anda beredar di berbagai media (termasuk media online dan media sosial). Bahkan di situs mesin pencari Google, berita negatif Anda mendominasi halaman utama.

Investasi untuk pencitraan untuk personal brand sehingga tercipta citra Anda saat ini, tentu mahal. Kini lenyap bagai debu yang tersapu angin. Citra Anda rusak dalam tempo yang singkat dan tidak disangka-sangka sebelumnya.

Jika kondisinya begini, apa rencana darurat yang bisa dilakukan untuk menghadapi persoalan seperti ini? Kemudian, langkah-langkah teknis implementasinya seperti apa untuk mengatasinya?

Jangan panik, selalu ada solusi untuk setiap masalah apapun yang hadir dalam kehidupan kita. Solusi datangnya bisa dari sendiri, maupun dari pihak lain.

Menghapus Berita Negatif

Berita negatif muncul karena ada suatu peristiwa dan komentar (opini dan ulasan) yang tidak menyenangkan namun mengundang perhatian media. Sehingga lahirlah berita negatif yang mengganggu reputasi, yang harus segera disolusikan agar citra menjadi baik.

Anda benar. Solusi singkat yang muncul dan terlintas di benak Anda dan saya, jika menghadapi berita negatif adalah dengan menghapus berita. Hilangnya berita negatif, bisa mengembalikan nama baik, reputasi, dan kebahagiaan Anda.

Sayangnya, pikiran seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan, atau sangat sulit disealisasikan, apalagi jika berita negatif munculnya di media yang mainstream (media utama), media-media milik konglomerat yang berita-beritanya sering muncul, tanpa diundang di gadget kita.

Meskipun media tersebut menampilkan berita negatif yang salah (karena nara sumbernya bohong) sehingga produk beritanya juga salah, tetap saja upaya menghapus berita sulit dilakukan. Apalagi, berita negatif itu faktual, sebuah peristiwa yang nyata.

Yang bisa dilakukan jika berita negatif terbit karena kesalahan data, adalah melakukan klarifikasi dengan memberikan komentar, opini, dan disertai data dan faktanya.

Media punya kewajiban untuk memperbaiki atau meralat berita yang salah. Publik juga memiliki Hak Jawab yang dilindungi UU Pers, yang wajib dihormati oleh media. Menurut saya, Anda harus mengoptimasi Hak Jawab semaksimal mungkin.

Bagaimana jika berita negatif muncul di media non mainstream? Menghapus berita negatif dari sumbernya secara langsung adalah upaya yang sangat strategis dan paling jitu untuk menghentikan peredaran berita negatif.

Meskipun tidak janji akan sukses, yang jelas akan memakan biaya yang mahal. Berita adalah produk keroyokan yang melibatkan tim redaksi, minimal wartawan, dan redaktur. Berarti harus melakukan corporation approach.

Anda sedang berhadapan dengan institusi media, bukan hanya berhadapan dengan wartawan. Silahkan Anda melakukan lobbying dan bernegosiasi untuk menghapus berita negatif, sejauh memungkinkan.

Berita Negatif juga Muncul di Google

Wajar saja jika Anda panik. Bagaimana tidak panik? Menghapus berita negatif di media mainstream hampir tidak mungin, menghapus berita negatif di media non mainstream sangat sulit dan memakan biaya besar.

Sekarang, harus pula menghapus lagi berita negatif di Google. Bagaimana mungkin? Kalaupun mungkin, berapa biaya yang harus digelontorkan untuk menghapus berita negatif di situs mesin pencari terbesar di dunia itu?

Sebenarnya, berita negatif tidak bisa dihapus di Google, tapi kabar baiknya adalah berita negatif bisa digeser dari halaman utama Google. Berita negatif Anda dibersihkan, dan sebagai gantinya yang dimunculkan adalah berita positif Anda.

Berita negatif sangat penting dihilangkan dari halaman 1 google, karena kecenderungan pengguna Google hanya membuka halaman 1 Google, dan mengklik satu dari 5 saran teratas di halaman hasil (SERP, search engine result page)

Demikianlah hasil riset perilaku pengguna Google. Tentu kebiasaan ini bisa berbeda, jika pengguna Google memerlukan penelusuran berita dan informasi yang lebih dalam, dan memiliki waktu yang cukup.

Sekarang lihatlah orang-orang di sekitar Anda, apakah itu investor, pemegang saham, bos, mitra bisnis, pelanggan, konstituen, fans, keluarga, atau teman. Apa yang terjadi, jika mereka menemukan kabar buruk ketika mengetik kata kunci nama Anda di Google.

Cyber Public Relations

Dengan situasi dan kondisi seperti itu, Anda memerlukan Tim Komunikasi Krisis, atau tim Cyber Public Relations (CPR), yang secara komprehensif mampu menghandle tugas-tugas Public Relations (PR) dan Online Reputation Management (ORP) secara holistik.

Jika secara internal Anda memiliki tim Cyber Public Relations, jangan buang-buang waktu. Kumpulkan, briefing, dan segera aktivasi kedua tim ini sesegera mungkin.

Pertama, Tim Public Relations. Tim ini akan melakukan tugas untuk melakukan strategi komunikasi yang efektif untuk melakukan langkah-langkah kehumasan untuk melakukan klarifikasi dan Hak Jawab, jika berita negatif ini harus diiluruskan.

Tim PR akan membuat draft Press Release yang baik, pointnya adalah klarifikasi dan penjelasan untuk mematahkan berita negatif dengan data-data dan narasumber yang kredibel.

Setelah itu, Tim PR melalui awak media relations akan melakukan komunikasi dan lobbying dengan berbagai media, sebelum mendistribusikan Press Release tersebut ke berbagai channel media. Biasanya tim ini saya sebut Tim Sapu Jagat.

Kedua, Tim Online Reputation Management (ORP). Tim ini saya sebut sebagai Tim Sapu langit, tim yang akan mengoptimasi Press Release positif hasil klarifikasi dan data/fakta yang sudah diterbitkan di berbagai media mainstream, maupun media sosial.

Bukan itu saja, tugas tim ORM lebih berat. Tim harus memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk adalah membersihkan Google halaman 1 dari polusi berita negatif Anda. Selain menyingkirkan berita negatif, tim ini harus bisa menggeser berita positif ke Halaman 1 Google.

Caranya? Terlalu teknis, jika tidak punya tim, lebih baik diserahkan kepada ahlinya, karena membentuk tim baru dengan kemampuan dan keahlian yang mumpuni memerlukan waktu yang panjang.

Tim ORP akan melakukan langkah-langkah yang tepat untuk mencari solusi soal ini. Halaman pencarian Google tidaklah permanen. Berita yang miring dapat disingkirkan, dan digantikan dengan berita positif yang melegakan.

Secara garis besar, untuk mencapai goal tersebut tim akan membangun dan menulis berita positif (re-frame) dengan melakukan posting pada blog network di berbagai kanal. Tim juga akan mengunggah foto maupun video pada kanal yang tepat.

Selain itu, dengan terbitnya berita-berita klarifikasi, dan berita sejuk yang kondusif di media mainstrem nasional tentu semakin medukung dan melengkapi suplay bahan berita yang positif.

Dengan modal inilah, tim inti ORP, yatu tim Search Engine Optimation (SEO) bisa bekerja secara optimal. Tim SEO inilah yang bertanggumgjawab untuk mengoptimasi seluruh konten, dan menatanya agar yang positif tampil di halaman 1 Google dan menenggelamkan berita negatif secara kreatif (de-indexing)

Pemulihan Reputasi

Serangkaian kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh Cyber Public Relations itu merupakan kegiatan image restoration (pemulihan citra) atau restorasi reputasi atau pemulihan nama baik.

Sebagian ahli komunikasi ada yang menyebutnya reputation repair atau image recovery. Maksud dan tujuannya sama saja.

Indikator keberhasilannya adalah kecepatan berlalunya krisis komunikasi yang menyerang nama baik, reputasi, citra Anda melalui berita negatif dan persepsi publik yang jelek.

Krisis berlalu, ketika polusi kabar buruk berita negatif, dan informasi jelek sudah menghilang dan tidak ada lagi di halaman satu Google. Yang ada adalah berita-berita positif yang melegakan, sesuai dengan harapan dan cita-cita Anda.

Cuaca bersih sekali, langit biru tanpa awan gelap. Halaman 1 Google juga sangat cerah, tidak ada lagi hantu yang menakutkan. Syaraf kepala Anda kendor.

Selamat ya, ini artinya Anda sukses melewati krisis tahap pertama. Mungkin ada lagi gempa susulan berikutnya, Anda harus tetap waspada.

Dengan dukungan full tim Sapu Jagat dan Sapu Langit serta pengalaman menghandle krisis. Saya yakin Anda dan tim Cyber Public Relations dapat menyelesaikan krisis susulan dengan lebih cepat dan lebih baik lagi. (*)

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalaman menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).