Oleh : Budi Purnomo Karjodiharjo

HARI ini dan ke depannya adalah hari-hari yang sangat menegangkan bagi sejumlah bos BUMN yang mendapat predikat red alert (sinyal merah) dari Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Altman Z-Score memberikan skor berdasarkan hasil analisis prediksi kebangkrutan, tingkat kesulitan likuiditas, dan kemampuan memenuhi kewajiban.

Predikat red alert mengindikasikan BUMN termasuk zona financial distress — media menyebut dengan istilah “rentan bangkrut”. Sedangkan, yellow alert adalah zona waspada) dan green alert adalah zona aman.

Di hadapan anggota DPR-RI, Menkeu Terbaik di Asia Pasifik Tahun 2019 versi majalah keuangan FinanceAsia itu juga mengumumkan puluhan BUMN dalam zona ini.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Dari kacamata komunikasi BUMN saya melihat pengumuman ini sebagai double crisis, ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga pula. Situasi yang sangat mengenaskan

Dengan adanya berita buruk dari Kemenkeu ini, maka reputasi BUMN yang bertanda merah dan kuning akan semakin terpuruk.l

BUMN yang semula reputasinya kinclong meskipun kinerjanya kurang baik, kini langsung terpuruk. Yang tadinya masih potensi itu kini menjadi realitas.

Padahal harusnya dipahami bahwa corporate reputation memiliki peranan penting bagi keberhasilan bisnis dan menjadi salah satu intangible asset yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan .

Jika demikian adanya, apa yang harus dilakukan BUMN? Sudah seharusnya segera melakukan berbagai langkah komunikasi, strategi public relations dan manajemen reputasi untuk melakukan restorasi reputasi dan pemulihan citra.

Urgensi Restorasi Reputasi

Bagi korporasi termasuk BUMN, semakin baik reputasi perusahaan di mata pasar maka semakin diminati produk/jasa perusahaan tersebut untuk digunakan.

Semakin besar tingkat minat pasar terhadap produk/jasa maka semakin besar peluang perusahaan menambah sales. Dan pada akhirnya semakin besar perusahaan tersebut konsisten dalam mencetak laba.

Perusahaan dengan reputasi yang baik akan dinilai tinggi oleh pasar. Produk/jasa yang dihasilkanpun juga akan dihargai tinggi, karena reputasi memiliki harga tersendiri.

Belum lagi jika korporasi tersebut sudah menjadi public company, tentu reputasi itu ibarat gelas kaca yang mesti dijaga dengan segala cara karena sangat menentukan harga saham di pasar modal.

Bukan itu saja, jika saat ini korporasi sedang mengambil upaya restrukturisasi dengan lembaga keuangan, atau sedang melakukan penjajakan bisnis dengan investor potensial, tentu corporate action itu bisa terganggu.

Begitulah, pentingnya reputasi. Oleh karenanya, tidak ada pilihan lain, di saat reputasi terpuruk, BUMN harus segera mengambil upaya image restoration atau pemulihan citra.

Jika reputasi BUMN baik, tentu akan mempermudah jalan bagi korporasi untuk memperbaiki kinerja keuangan BUMN, apapun jalan yang ditempuhnya. Sebaliknya, reputasi yang buruk akan menjadi batu sandungan.

Aktivasi Media Center

Dalam pandangan saya, pasca cap buruk disematkan, mestinya BUMN segera membentuk Tim Krisis untuk mengukur seberapa besar daya rusaknya terhadap reputasi perusahaan.

Setelah mengetahui besar kecilnya krisis yang ditimbulkan, jangan lantas berpikir tidak ada lagi gempa susulan.

Mengapa? DPR mungkin ingin mengorek info lebih dalam mengenai apa yang menyebabkan BUMN di ambang kebangkrutan. Belum lagi pengamat, peneliti ataupun opinion leader yang inline dengan bisnis BUMN.

Belum lagi jurnalis dan media beranggapan bahwa bad news is good news, tentu akan mendalami masalah ini.

Jika wartawan finansial (yang biasa meliput di BUMN dan pasar modal) mungkin lebih bisa dihandle, dibandingkan dengan wartawan kriminal (yang mangkal di Polri, Kejakgung, KPK) jika ada penyalahgunaan keuangan BUMN.

Di sinilah pentingnya aktifasi lembaga Media Center (Tim Komunikasi atau Tim Public Relations atau apapun namanya).

Selain bos BUMN yang diincar para pemburu berita atau media ketika krisis menerpa perusahaan, Tim Media Center menjadi salah satu incaran mereka berikutnya.

Peran Tim Media Center lah yang menjadi penentu sukses-tidaknya perusahaan melewati krisis sekaligus melakukan langkah pemulihan reputasi.

Tim PR berperan strategis dalam menyiapkan spoke person yang tepat, antara lain menyiapkan bos BUMN untuk dapat menghadapi sekaligus menjawab pertanyaan media maupun publik.

Tim Media Center pula yang harus merumuskan proses perencanaan program komunikasi untuk penanganan krisis. Termasuk, mengatur lalu-lintas sekaligus memantau jalannya perkembangan krisis.

Perlu Dukungan Pemerintah

Saat ini banyak bos BUMN yang sedang menunggu panggilan Menteri BUMN Erick Thohir yang menyatakan akan melakukan pergantian bos BUMN hingga akhir tahun 2019 ini.

Bagaimana nasib bos BUMN yang mendapat predikat red alert dan yellow alert? Tentu seperti telor di ujung tanduk. Lalu bagaimana kiprah dan perjuangannya untuk mendongkrak kinerja BUMN? Mudah-mudahan tetap semangat.

Dari sisi pergantian bos BUMN, kelihatannya perlu disegerakan agar tidak menimbulkan spekulatif tapi memberikan kepastian sehingga bisa memantapkan langkah BUMN ke depannya.

Memang suntikan finansial dalam bentuk penanaman modal pemerintah memang penting. Namun sungguhnya dukungan pemerintah dalam memberikan iklim yang kondusif bagi BUMN juga tidak bisa diabaikan.

Memberikan predikat negatif atau statement buruk kepada BUMN bukan hanya menyulitkan BUMN itu sendiri, tetapi bisa juga menyulitkan pemerintah sebagai pemegang saham.

Jika BUMN tersebut perusahaan publik, tentu pasar bisa langsung bereaksi negatif (harga saham bisa jatuh) terhadap statemen yang tidak kondusif. Jika belum, bisa jadi akan menyulitkan langkah restrukturisasi BUMN.

Menjaga reputasi BUMN tetap baik dan memulihkannya jika terpuruk adalah tanggungjawab semua pihak terutama bos (manajemen) BUMN dan pemegang saham (pemerintah), dan juga stakeholder.

Diperlukan simbiosis, sinergitas, kebersanaan, dan saling dukung serta bersatu padu untuk memulihkan reputasi, yang mudah-mudahan bisa memuluskan upaya penyehatan kinerja BUMN. Semoga. (*)

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan media Investor.id, edisi Selasa, 10 Desember 2019

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).