Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

SELAIN menghadapi persaingan bisnis yang sangat ketat, saat ini bisnis kuliner inipun menghadapi masalah yang tidak kalah hebat, yang menyangkut relasi dengan pelanggan, yaitu isu pesugihan.

Isu publik seperti ini tentu sangat mengganggu bisnis kuliner yang berkaitan dengan konsumen yang nenjadi pelanggannya. Bukan itu saja, karyawan yang resah dan kurang pemahaman, yang takut dijadikan “tumbal”, juga menjadi persoalan tersendiri. Itulah kondisi krisis.

Seperti dipublikasikan media, awal mula isu tersebut berhembus dari sebuah video YouTube milik Robby Purba yang tengah berbincang dengan Roy Kiyoshi serta anak indigo bernama Dephienne.

Dalam video itu, Roy Kiyoshi membahas mengenai beberapa ciri-ciri restoran yang memakai pesugihan atau bisa dibilang penglaris. Sontak pertanyaan yang lantas dilayangkan Robby Purba mengenai siapa saja yang memakai pesugihan.

Kepada Dephienne, Robby hanya meminta inisial restoran terkenal yang memakai pesugihan hingga kemudian muncul dengan inisial “G” dan kepada Roy Kiyoshi, Robby Purba kembali bertanya soal restoran yang memakai pesugihan yang memakan nyawa. Di sini, Roy mengeluarkan inisial huruf “R”.

Sayang tak lama setelah itu, ada sebuah akun YouTube yang bernama Hikmah Kehidupan justru kembali mengunggah video potongan obrolan dari Robby Purba, Roy Kiyoshi dan Dephienne mengenai restoran yang menggunakan penglaris.

Tak hanya itu, media onlime Kompas menulis, akun tersebut menuding restoran Ruben Onsu lah yang memakai pesugihan. Dari sini isu itu berkembang hingga memunculkan fitnah untuk Ruben Onsu.

Proses hukum dan mediasi dengan berbagai pihak saat ini masih bergulir dan disaksikan di berbagai saluran media.

Termasuk Berita Hoaks

Menurut KBBI, hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.

Menurut Werme (2016), mendefiniskan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.

Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan kebenaran.

Meskipun masalah hoaks di Indonesia baru menjadi perbincangan publik namun sejarah dan asal-usulnya sudah lama sekali. Menurut Wikipedia, setidaknya ada 2 versi terkait dengan sejarah hoaks.

Pertama yang dicatat pada 1661. Kasus tersebut adalah soal Drummer of Tedworth, yang berkisah soal John Mompesson -seorang tuan tanah- yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya.

Ada juga kisah soal Benjamin Franklin yang pada tahun 1745 lewat harian Pennsylvania Gazette mengungkap adanya sebuah benda bernama “Batu China” yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya.

Strategi Menangkis Berita Hoaks

Dalam beberapa kesempatan, saya menyampaikan lima hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi hoax — yang mudah-mudahan efektif menjadi serum anti hoax — jika serangan hoax melanda perusahaan.

Membuat Klarifikasi.
Berita yang salah tidak boleh dibiarkan, karena akan menjadi referensi yang salah secara berulang. Harus diklarifikasi dengan baik. Klarifikasi yang efektif adalah Press Release yang didistribusikan dandipublikasikan media seluas-luasnya.

Media memiliki follower medsos yang berjumlah banyak. Jika klarifikasi resmi tidak cukup, gunakan third parties opinion leader untuk membantu atau mempertegas Press Release kita.

Duplikasikan Klarifikasi Anda.
Sebarluaskan semua kliping publikasi media masa ke berbagai media sosial, dalam kuantitas yang sebanyak-banyaknya.

Yang terpenting, kuantitas berita klarifikasi kita harus lebih banyak dari berita hoax yang sudah tersebar. Singkirkan berita yang tidak benar ke halaman belakang google, dan ke depankan berita-berita klarifikasi kita di halaman pertama google.

Mencegah Berita Hoax. Untuk menangani hoax di media mainstream, sebaiknya jalin komunikasi personal yang baik dengan jurnalis (media relations). Lakukan media visit, atau journalist gathering, atau TV news producer meeting.

Ini sangat efektif untuk menjelaskan positioning informasi yang benar versi kita. Lakukan klarifikasi via medsos dilakukan dengan menghubungi pemilik akun menjelaskan secara baik-baik.

Minta Bantuan Pihak Ketiga.
Meskipun sudah dijelaskan, berita hoax terkadang masih muncul lagi, muncul lagi. Media bersikukuh dengan kebenarannya sendiri. Kita bisa mengadu kepada Dewan Pers.

Bagaimanapun berita hoax dilarang, jurnalis dan media wajib menerapkan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Kalau di media sosial bisa dilaporkan kepada penyelenggara atau publisher media sosialnya (facebook/twitter).

Langkah Hukum. Sejauh kita bisa melakukan mediasi, upaya hukum tidak dianjurkan. Upaya hukum terhadap media hanya menambah publikasi berita buruk.

Jika semua upaya, mulai dari permintaan klarifikasi dan mediasi sudah dilakukan secara optimal namun tidak mempan, langkah hukum perlu juga dilakukan.

Untuk media sosialpun sama sajan bisa diambil juga. Itulah yang saat ini dilakukan Robin Onsu terhadap pemilik akun youtube Hikmah Kehidupan, kabarnya Roy juga mengikuti langkah hukum terhadap akun tersebut. (*)

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan media Serambiislam.com, edisi 14 November 2019.

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).