Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

SIAPAPUN tokohnya, apakah tokoh muda ataupun tua, tokoh kekinian ataupun tokoh kekunoan, dia ingin citranya selalu cantik, dan reputasinya senantiasa mencorong.

Sang tokoh akan selalu berusaha untuk tidak melakukan kesalahan dan mengupayakan agar selalu berbuat benar. Jika berbuat salah? Tetap sama, dia ingin citra dan reputasi tetap baik.

Di sinilah peranan ilmu komunikasi hadir mengemas situasi krisis yang terjadi bisa membawa ke arah perbaikan dan pemulihan citra melalui strategi public relations dengan pendekatan teori restorasi citra maupun online reputation management.

Studi kasus komunikasi yang aktual adalah masalah cuitan Staf Khusus (Milenial) Presiden Jokowi, Billy Mambrasar, yang akhirnya menyatakan bahwa dirinya tidak bermaksud berpihak pada kelompok masyarakat apapun.

Tidak cukup itu, Billy juga minta maaf kepada publik karena telah memicu polemik lewat cuitannya di Twitter dengan menyinggung kalimat ‘kubu sebelah megap-megap’.

Dari kacamata teori komunikasi, terutama Image Restoration Theory (pemulihan citra atau restorasi reputasi), setidaknya Billy sudah menggunakan dua strategi dalam upayanya memilihkan citra sebagai pejabat publik .

Pertama, Strategi Reducing Offensiveness of Event

Dalam strategi ini ada pengkondisian bahwa meskiun ada kesalahan sebenarnya sangat pantas diberikan keringanan, bahkan diberikan pengampunan.

Dalam strategi ini, sebenarnya ada enam pilihan implementasi yang bisa dilakukan agar mendapatkan apresiasi publik yang positif sesuai dengan yang diharapkan.

Semuanya ada plus dan minusnya, tergantung seberapa besar krisis yang sedang dihadapi. Selain itu langkah strategi pemulihan citra itu pun memiliki konsekuensinya masing-masing.

Nah, dari sekian pilihan itu, menurut saya disadari atau tidak, Billy menggunakan taktik Minimize, untuk mengurangi gelombang besar yang akan menggerus reputasinya, dengan menyampaikan background dirinya.

“Sedari kecil saya diajari indahnya perdamaian dan saling sayang yang diajarkan Islam dan Kristen. Saya menyaksikan keindahan dari hidup di Indonesia, di tengah-tengah keluarga kami. Dan tidak pernah sekalipun saya menyatakan hal-hal berbau ujaran kebencian dan kecurigaan terhadap agama apapun,” tulis Billy dalam cuitan twitter klarifikasinya

Kedua, Strategi Mortification

Strategi ini menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalan Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Menurut Wikihow, permintaan maaf merupakan ungkapan penyesalan untuk kesalahan yang sudah diperbuat, dan berfungsi sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan setelah kesalahan terjadi.

“Saya pertama memohon maaf atas kesalahpahaman yang muncul karena salah satu cuitan saya yang menggunakan kata yang menimbulkan multitafsir, yaitu kata: ‘kubu’,” cuit Billy di akun twitter @kitongbisa.

Mestinya Case Close

Billy sudah menghapus cuitan yang membuat polemik di masyarakat. Itu saja tidak cukup. Penggunaan strategi Reducing Offensiveness of Event saja pun, saya kira tidak cukup.

Setidaknya menggunaan dua strategi (sekaligus) komunikasi pemulihan citra ini, yang akan efektif untuk menangani masalah manajemen reputasi seperti ini.

Sulit dibayangkan seperti apa jadinya jika strategi Mortification ini tidak diambil. Bisa jadi urusannya akan menjadi lebih lebar dan bertambah panjang, bahkan berpotensi mengganggu pak Presiden.

Contoh kasus terbaru yang sukses menggunakan strategi Mortification adalah bu Sukmawati Soekarnoputri. Baik pembacaan puisi atau pun pidatonya sempat menggegerkan ummat, tapi kini adem setelah minta maaf.

Pemberian maaf terjadi ketika orang yang merasa disakiti tergerak hatinya untuk memperbaiki hubungan dengan orang yang telah menyakitinya.

Secara spiritual, memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan, merupakan perbuatan terpuji yang diyakini akan mendatangkan pahala dan keselamatan dari Allah. (*)

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Investor.id, edisi Selasa, 3 Desember 2019.

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com

Kini, Budi Purnomo bersama tim Rep+ (Reputasi Plus) – Media Restoration Agency, dan tim Master SEO Indonesia, menyediakan waktu untuk membantu personal dan korporasi/instansi yang menghadapi masalah komunikasi dengan pendekatan Crisis Management (CM), Cyber Public Relations (CPR), Online Reputation Management (ORM), dan Image Restoration Theory (IRT).