Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

BISA dipastikan, saat-saat ini adalah waktu yang “sangat tidak nyaman” bagi penyanyi Shandy Sondoro. Masalahnya, gelombang serangan medsos menyerang citra, reputasi dan nama baiknya.

Nama Sandhy mencadi trending dengan tagar #SandhySondoroCabul. Hal ini berawal dari cuitan akun @opposite6890 yang menunjukkan hasil tangkapan layar akun Twitter Sandhy Sondoro, yakni @SondoroMusic.

Dari sisi komunikasi jelas merusak citranya. Kok Shandy Sondoro dibilang cabul? Mencabuli siapa? Seberapa besar bentuk percabulannya? Benarkah itu perbuatan cabul?

Setelah ramai dibicarakan, akun Sandy Sandoro dengan username @SondoroMusic tiba-tiba saja digembok. Padahal sebelumnya masih bisa bisa diakses publik.

Padahal media pasti menunggu-nunggu jawaban dari pelantun lagu “Malam Biru” untuk memenuhi prinsip pemberitaan yang berimbang, yaitu cover both side, sesuai perintah Kode Etik Jurnalistik.

Publik dan para penggemarnya pasti juga menunggu-nunggu respon apa yang akan dilakukan oleh Shandy Shondoro.

Perlu Manajemen Reputasi

Apa yang menimpa Sandy Sondoro biasa disebut krisis. Krisis merupakan suatu permasalahan besar yang tidak terduga dan memiliki dampak negatif sekaligus positif.

Pada korporasi, permasalahan ini bisa menghancurkan organisasi, karyawan, hingga reputasi perusahaan. Namun jika krisis dapat ditangani dengan baik oleh organisasi atau perusahaan, maka reputasi dan citra perusahaan tersebut justru akan menjadi lebih positif.

Krisis berbeda dengan masalah sehari-hari, krisis sering menarik minat dan menjadi perhatian publik melalui liputan media. Keadaan seperti ini dapat mengganggu institusi maupun tokoh personal seperti selebriti.

Diperlukan langkah-langkah komunikasi yang tepat, strategi public relations dan manajemen reputasi yang efektif.

Karena serangan reputasi sudah terjadi maka manajemen reputasi yang sebaiknya dilakukan adalah image restoration strategy (strategi pemulihan citra atau restorasi reputasi.

Mengenai taktik dan langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk strategi pemulihan citra, banyak jalan yang ditawarkan oleh Prof. William Benoit penemu Image Restoration Theory.

Rekomendasi Restorasi Citra

Tidak gampang untuk mengambil keputusan yang terbaik agar bisa mengcounter pemberitaan negatif seputar dirinya, sehingga Shandy Sondoro memerlukan waktu yang agak panjang meskipun ditunggu publik.

Padahal keinginan untuk mendapatkan citra yang baik ataupun reputasi yang bagus adalah cita-cita semua orang. Ya, orang yang baik dan orang yang buruk ingin citranya selalu baik.

Orang yang lebih buruk dari Shandy Sondoropun ingin citranya selalu, termasuk orang-orang yang menyerang dan berkomentar burukpun ingin citranya baik.

Lalu apa yang harus dilakukan? Menurut pandangan saya, situasi krisis ini harus dipadamkan segera, pada kesempatan pertama, agar api krisis tidak menghanguskan semuanya.

Dalam konteks kecepatan meredam isu negatif, Shandy Sondoro perlu belajar dari selebritis yaitu Robin Onsu yang sangat sigap meredam isu pesugihan yang menyerang bisnisnya. Api hoaks langsung padam seketika.

Masalahnya, strategi restorasi citra apa yang tepat dilakukan Shandy Sondoro untuk masalah ini? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada sayap, jawabannya adalah Strategi Mortification.

Mengapa? Dalam pandangan saya, strategi restorasi citra Mortification ini pilihan yang terbaik. Baik salah/tidak merasa salah, meminta maaf merupakan perbuatan yang terpuji.

Seseorang yang berani meminta maaf sejatinya telah menunjukkan keberaniannya dalam berkomitmen untuk bersegera memperbaiki diri.

Mengakui bersalah, dan meminta maaf dari orang-orang yang telah dirugikan atau tersinggung tentu baik, apalagi tidak ada yang dirugikan adalah hal yang luar biasa.

“Jika kita percaya permintaan maaf itu tulus, kita akan memaafkan suatu kesalahan” tulis Benoit yang medasari Strategi Mortification ini.

Strategi Mortification menjadi alternatif paling akhir yang disebut oleh Prof. William Benoit dalam Image Restoration Theory (teori pemulihan citra).

Strategi ini dinilai sangat elegan, karena mengakui kesalahan, dan dengan jelas meminta pengampunan atas kesalahan tindakan yang sudah dilakukan.

Bahkan srategi “penyiksaan diri” dalam teori Benoit pernah menjadi tema utama yang menarik dari tulisan pakar komunikasi yang lainnya, yaitu Burke.

Adapun mekanismenya bisa dilakukan melalui media press conference, distribusi press release, maupun publikasi di akun medsos Shandy Sondoro sendiri. Namun menggunakan tiga media di atas, hasilnya akan sangat dahsyat. (*)

Budi Purnomo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan media Tribunnews.com, edisi Kamis, 28 Oktober 2019.