Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

SEMUA orang pada umumnya memiliki keinginan yang sama. Ingin pencitraannya baik, ingin reputasinya baik, dan ingin namanya baik di mata publik.

Semua orang ingin begitu. Terlepas apakah itu orang baik-baik ataupun tidak.

Namun demikian, kita menyaksikan banyak hal buruk yang menimpa orang baik-baik sepanjang waktu. Soal ini, Anda bisa memantaunya dari berbagai macam saluran media.

Banyak tokoh dan perusahaannya yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun nama baiknya dan reputasi bisnisnya, agar semakin terpercaya dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Namun entah mengapa secara tiba-tiba, dan tanpa disangka-sangka, ternyata citra, reputasi, dan nama baiknya hancur.

Mengapa? Penyebabnya sederhana tapi tidak bisa dianggap sepele, yaitu : munculnyanya konten negatif dalam situs mesin pencarian kata kunci.

Tapi jangan menganggap enteng, karena kesalahan sederhana ini bisa menyebabkan longsoran komentar negatif dari pengikut yang marah ataupun yang dimobilisasi yang jika dibiarkan membahayakan eksistensi perusahaan/Anda.

Memang benar, munculnya konten negatif dalam situs mesin pencari itu bukan akibat kesalahan Anda.

Bisa jadi ada perusahaan pesaing Anda yang membuat konten artikel negatif palsu yang disalurkan via media online dan menjadi berita buruk.

Bisa juga, ada satu pelanggan yang marah, kemudian komplain dengan menulis ulasan dengan muatan konten negatif.

Apa yang Harus Dilakukan?

Nah, apa pun alasannya, Anda harus segera mengambil tindakan cepat untuk memperbaiki reputasi Anda. Harus ada upaya restorasi citra (image restoration) yang tepat untuk memulihkan nama baik perusahaan/Anda.

Jangan biarkan konten negatif mencemari halaman pertama hasil pencarian dengan kata kunci nama Anda, perusahaan Anda, ataupun produk Anda.

Jika Anda mengalami masalah seperti ini setidaknya ada empat tahapan restorasi citra, seperti yang direkomendasikan oleh konsultan PR terkemuka dari Amerika Serikat yang mengelola manajemen reputasi online “ReputationX”, antara lain :

Pertama, cari dulu, dan identifikasikan akar penyebab masalah muncunya konten negatif di media.

Terkadang hasil pencarian negatif adalah puncak gunung es. Cobalah untuk menemukan dan mengatasi masalah yang mendasarinya. Biar bisa menuntaskan langsung dari sumbernya.

Kedua, langsung perbaiki saja konten negatif di sumbernya. Artikel sering disindikasikan, jadi Anda harus menemukan dan memperbaiki masalah pada konten asli.

Anda bisa memberikan klarifikasi dan hak jawab kepada sumber konten untuk bisa melakukan perbaikan konten berita.

Ketiga, hapus hasil pencarian negatif dari Google. Jika Anda berhasil memperbaiki masalah atau menghapus konten, maka Anda dapat mengirim permintaan penghapusan konten negatif yang tidak sesuai fakta atau hoaks ke Google.

Keempat, harus memperkuat kehadiran online Anda dengan membanjiri konten-konten positif.
Publikasikan konten positif sebanyak-banyaknya tentang korporasi/Anda untuk membangun dan menjaga firewall di sekitar reputasi Anda.

Kelima, tekan konten negatif yang tidak dapat Anda hapus ke halaman belakang Google. Duplikasikan da optimalkan profil sosial Anda, kembangkan blog, dan luncurkan situs web pribadi untuk menghilangkan hasil negatif yang berpotensi muncul di halaman pertama.

Keenam, dapatkan ulasan positif, endorse yang baik dari mitra usaha maupun testimoni yang membangun dari klien, customer ataupun pelanggan.

Digital Public Relations

Begitulah dunia Public Relations pun berkembang pesat sesuai dengan tuntutan jaman. Krisis komunikasi, kerusakan citra atau hancurnya nama reputasi dan nama baik seseorang tidak cukup disolusikan dengan strategi PR konvensional.

Diperlukan infrastuktur yang tepat untuk menghadapi krisis komunikasi di era siber digital, diperlukan konsultan Digital Public Relations yang bisa melakukan restorasi citra secara efektif.

Konsultan Manajemen Reputasi Online atau Digital PR akan menggunakan berbagai strategi holistik yang menggabungkan SEO, hubungan masyarakat, dan manajemen krisis untuk mengubur konten negatif dalam hasil situs mesin pencarian kata kunci. (*)

Budi Purnomo adalah praktisi media dan komunikasi.

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan media Pusatsiaranpers.com, edisi 19 November 2019