Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

HARI ini, Rabu (8/7), Presiden Jokowi melantik Panglima TNI yang baru dari jendreal Moeldoko kepada Jenderal Gatot Nurmantyo. Dalam wawancara secara doorstop dengan wartawan, Jenderal Moeldoko terlihat ceria dan sepertinya tidak sedang kehilangan jabatan penting.

Saya mencatat, ada beberapa pemikiran Jenderal Moeldoko soal komunikasi, yang sungguh di atas rata-rata. Beliau terlihat tidak melakukan pencitraan biasa — seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh politik atau pemimpin daerah. Beliau melakukannya dengan strategi komunikasi yang pas, terutama dalam berhubungan dengan media.

Salah satunya yang terpenting adalah pada pertengahan bulan Juni 2015. Yaitu, ketika 42 Pimpinan Redaksi media massa nasional ditambah wartawan senior Pertahanan Keamanan mendapatkan penyematan brevet dan pemakaian jaket di Mabes TNI, semacam upacara untuk pengakuan bahwa media adalah mitra TNI.

Ini adalah langkah yang jitu. Menjadi mitra media bukanlah persoalan yang gampang, terkait banyaknya agenda dan kepentingan yang turut masuk di dalam persoalan kemitraan tersebut. Namun, di sisi lain, menjadi mitra media sesungguhnya adalah suatu keharusan — terlepas seseorang ingin mencapai tujuan tertentu atau pun tidak.

Jenderal Moeldoko rasanya mengerti hal tersebut, Moeldoko paham, bahwa membangun tali silaturahmi yang semakin baik antara media dengan TNI adalah hal penting, terlebih Moeldoko ingin perubahan sikap dan paradigma komunikasi di internal TNI .

“Tidak boleh lagi TNI menutup diri. Tidak boleh lagi, TNI dikritik terus marah. Kami harus memberikan akses seluas-seluasnya kepada media,” kata Moeldoko usai memberikan upacara penyematan brevet kepada wartawan, Selasa (16/6).

Seakan ingin meyakinkan adanya perubahan paradigma komunikasi, Moeldoko menambahkan pernyataan bahwa lewat kegiatan ini, media bisa mengerti perubahan paradigma komunikasi dari TNI saat ini. Moeldoko menegaskan, akses yang diberikan seluas-seluasnya kepada media harus dilakukan dengan memberikan informasi yang jujur.

“Jika informasi diberikan secara jujur, saya yakin, akan ada kesepakatan untuk tidak semua informasi dikeluarkan ke publik,” ujarnya.

Shortcut Communications, setidaknya itulah yang dilakukan sang Jenderal. Bertemu dengan para pemimpin redaksi bukan perkara yang gampang, Kalau pun bisa bertemu untuk waktu yang panjang, tentu juga tidak gampang. Para pemimpin redaksi juga punya kesibukan pekerjaan yang tidak sedikit mengingat posisinya, biasanya adalah Direktur di Manajemen Media.

Bagaimanapun, hubungan yang baik dengan media atau wartawan adalah investasi yang baik untuk para tokoh dan para pemimpin. Hal ini penting untuk mengkampanyekan ide-ide segar ataupun memberikan solusi atas berbagai permasalaan bangsa agar menjadi jauh lebih baik. Moeldoko telah bertemu dengan hampir semua Pemred, penguasa opini publik di republik ini.

Kalau pun pada suatu saat terjadi kesalahan dalam hal komunikasi, maka media juga dapat menjadi salah satu alat yang relevan untuk menerapkan prinsip-prinsip Image Restoration Theory, seperti yang biasa dilakukan dalam praktek komunikasi yang sedang dilanda krisis.

Dengan pola komunikasi efektif yang selama ini dilakukan oleh Jenderal Moeldoko, bisa jadi beliau adalah salah satu anak bangsa yang pantas dipercaya untuk mengemban tugas negara yang jauh lebih besar, ketimbang masuk ke dunia pensiun atau pun sekedar ngemong anak cucu.

Kita tunggu kiprah sang Jenderal, setelah lengser dari Panglima TNI ini. (*)

(*) Tulisan ini sudah dipublikasikan di media Hallobogor.com, edisi 8 Juli 2015.

Budi Purnomo S.IKom, M.IKom pernah memimpin Media Center sejumlah tokoh nasional, dan berpengalamaan menangani masalah krisis citra, persepsi publik, dan reputasi : baik korporasi swasta, perusahaan publik, maupun BUMN. Tulisan-tulisannya seputar manajemen reputasi dan restorasi citra bisa dilihat di blog Budipurnomo.com